![]() |
| Ilustrasi cewek matre |
Setiap orang yang menjalin hubungan asmara pasti mengharapkan sosok pasangan yang tulus mencintai apa adanya. Bukan pasangan yang mencintai karena “ada apanya”. Sehingga kita harus pandai-pandai memfilter orang dalam pertemanan ataupun hubungan. Tanpa membuat mereka merasa tersinggung atau merasa dijauhi.
Jagat maya pernah digemparkan dengan kasus Fat Cat. Dia adalah pemuda belia asal China yang bunuh diri dengan melompat dari atas jembatan. Perbuatan nekat tersebut disebabkan karena dirinya merasa sakit hati terhadap pacarnya. Pasalnya ia telah memberikan semua harta kepada pacarnya, tetapi pacarnya malah menikah dengan pria lain.
Fat Cat mungkin merasakan kekecewaan mendalam setelah menuruti keinginan pacarnya yang matrealistis. Pemuda itu bahkan rela menghemat biaya makan agar bisa memberikan lebih banyak uang untuk sang pacar.
Terungkap pula isi pesan dalam percakapan online terakhir di ponsel pasangan tersebut. Di situ terlihat jelas kalau si wanita sangat tidak memperdulikan kesehatan pacarnya. Dia hanya sibuk menyuruh Fat Cat untuk bekerja keras agar mendapatkan lebih banyak uang.
Perilaku materialistis cenderung menciptakan situasi di mana individu terus-menerus merasa tidak puas dengan apa yang mereka miliki. Selalu menginginkan lebih banyak kekayaan atau barang-barang baru, tanpa pernah merasa cukup.
Dalam sebuah hubungan mungkin bisa dideteksi apakah pasangan kita memiliki sikap matrealistis yang berlebihan.
![]() |
| Ilustrasi cewek matre |
1. Menganggap Kekayaan Sebagai Sumber Kebahagiaan
Seseorang yang dianggap matre cenderung sangat berfokus pada keuntungan material dan kekayaan yang dia inginkan. Bahkan tidak ragu jika itu berarti harus mengorbankan nilai-nilai atau norma yang berlaku di masyarakat. Matre sering kali menunjukkan minat berlebihan pada uang dan barang-barang mewah. Mereka mungkin mengejar gaya hidup yang glamor dan menganggap kekayaan sebagai indikator utama keberhasilan atau kebahagiaan.
2. Kurang Empati
Seseorang yang matre cenderung kurang peka terhadap kebutuhan atau kesulitan orang lain. Kecuali jika orang itu dapat punya potensi untuk menguntungkan mereka. Mereka mungkin cenderung memanfaatkan orang lain untuk keuntungan pribadi mereka sendiri. Mereka juga tidak memperhatikan konsekuensi moral atau etika.
3. Orientasi pada Status Sosial
Orang matre seringkali sangat peduli dengan status sosial. Mereka akan selalu mencoba mempertahankan citra yang mengesankan dan prestisius di mata orang lain. Terutama dalam lingkaran mereka yang kebanyakan dari kalangan orang kaya atau berpengaruh.
4. Mengalami Krisis Keuangan Pribadi
Pengeluaran yang tidak terkendali untuk memenuhi keinginan material dapat menyebabkan masalah keuangan pribadi. Mungkin juga akan menimbulkan hutang yang menumpuk, kesulitan dalam mencapai tujuan keuangan, dan stres dalam finansial. Tidak heran kalau orang matre akan cepat kehabisan uang. Sehingga ada kecenderungan untuk memoroti harta orang lain.
Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua orang yang menunjukkan minat pada kekayaan atau barang-barang mewah secara otomatis dianggap matre. Penilaian terhadap seseorang sebaiknya berdasarkan pada berbagai aspek kepribadian dan perilaku mereka secara keseluruhan. Bukan hanya berdasarkan satu atau dua ciri tertentu.
Setiap individu itu unik dan sifat setiap orang pun pasti berbeda-beda. Namun jika dalam pergaulan sudah merasa kurang cocok dan merasa lebih banyak dirugikan oleh seseorang. Tidak ada salahnya untuk kita membatasi pergaulan dengan orang tersebut namun tetap berteman sewajarnya.
.jpg)
.jpg)
Komentar